Studi Kecerahan Langit Malam Di Laboratorium Terpadu UIN Sunan Gunung Djati Bandung Berdasarkan Skala Bortle

  • Fakhrizal Mutaqqien Jurusan Fisika, Fakultas Sains danTeknologi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung
  • Imamal Muttaqien Jurusan Fisika, Fakultas Sains danTeknologi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung
  • Sulistiyowati Sulistiyowati Jurusan Fisika, Fakultas Sains danTeknologi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Kata Kunci: Kecerahan Langit Malam, Polusi Cahaya, Skala Bortle, SQM

Abstrak

Kecerahan langit malam sangat penting dalam observasi astronomi. Semakin gelap tingkat kecerahan langit malamnya, maka semakin banyak pula objek langit yang dapat diamati. Namun saat ini, pemandangan langit malam semakin tidak dapat dinikmati dengan meningkatnya tingkat polusi cahaya, terutama di perkotaan. Tingkat kecerahan langit malam di suatu wilayah dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor alami atau pun faktor buatan. Faktor alami yang mempengaruhi tingkat kecerahan langit diantaranya fase Bulan, cahaya zodiac dan cahaya dari galaksi Bima Sakti. Adapun faktor buatan yang mempengaruhi tingkat kecerahan langit adalah polusi cahaya yang berasal dari lampu-lampu di perkotaan berupa berupa glare, sky-glow dan light trespass. John E. Bortle (2001) telah membuat skala untuk mengklasifikan tingkat polusi cahaya berdasarkan nilai kecerahan langit malam ke dalam 9 kelas. Pada penelitian kali ini, dilakukan monitoring nilai kecerahan langit malam menggunakan Sky Quality Meter (SQM)  pada bulan Juli-September 2018. SQM di arahkan ke zenith di atas Laboratorium Terpadu UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata nilai kecerahan langit malam di UIN Sunan Gunung Djati Bandung adalah 19.38 mpdbp, atau jika dikonversi ke dalam nilai NELM (Naked Eye Limitting Magnitude), sebesar 5.05. Berdasarkan skala Bortle, kondisi langit di atas Laboratorium UIN Sunan Gunung Djati Bandung diklasifikasikan pada kelas 6, yaitu Bright suburban sky.

Diterbitkan
2018-12-30
Bagian
Articles